Travel

Curug Parigi, Oase Cantik di Tengah Panasnya Bekasi

Saat pertama kali melihat pesona Curug Parigi di sebuah postingan Instagram, saya tertegun dan setengah tak percaya. Bekasi yang panas ternyata menyimpan satu pesona yang belum saya lihat.

Penduduk lokal biasanya malah tak tahu menahu wilayahnya sendiri. Waktu saya ke Yogya misalnya, saya mendapati fenomena tersebut. Penduduk yang hanya geleng-geleng kepala ketika saya bertanya soal lokasi wisata yang hendak saya tuju. Itulah yang terjadi ketika beberapa orang bertanya pada saya mengenai lokasi Curug Parigi ini.

Berpuluh tahun berdomisili di Bekasi, saya hanya bisa terperangah ketika salah satu teman di dunia maya memajang potret indah sunrise di Curug Parigi. Berburu matahari terbit berarti berada di jalanan sebelum matahari terbit. Sementara saya masih terbuai di balik selimut dan kalah oleh rasa kantuk, teman saya ini menghasilkan karya yang bisa saya nikmati di pagi hari.

Curug Parigi di siang hari

Tak mau kalah, mulailah saya menghasut Enno teman saya untuk mencari keberadaan air terjun ini. Kenapa Enno yang saya ajak?  Enno ini anak Bekasi yang juga hampir selalu hayuk kalau diajakin jalan. Jadi kita berdua bisa bekerja sama mencari lokasi Curug Parigi. Saya di depan mengendarai motor, Enno membonceng di belakang sambil sesekali melihat GPS andalan utama menuju lokasi.

How to go there?

Saya dan Enno bertemu di Pom Bensin Setia Kawan, dan langsung melaju menuju perempatan Rawa Panjang. Di seberang Pempek Gaby yang fenomenal itu, kami berbelok kiri melintasi jalan raya Narogong. Kami berhenti di satu mini market yang kami lewati untuk membeli minuman dan sedikit cemilan. Kami  juga berhenti di beberapa titik untuk memastikan arah jalan yang kami lewati sudah benar. Oh iya, kami hanya melaju lurus di sepanjang jalan arteri. Setelah sempat terlewat di belokan kanan selanjutnya, kami survive dengan melihat patokan  Pabrik Mitra Baja di jalan arteri. Jadi harap diingat, begitu melihat Pabrik Mitra Baja langsung saja berbelok di belokan kanan terdekat, lalu terus ambil jalan lurus.

 

Di sebuah rumah warga yang dihalang pagar, kita harus membayar lima ribu Rupiah untuk parkir motor. Lalu dilanjut dengan melintasi jalan tanah merah yang pastinya sangat becek jika hujan turun. Di sekitar tanah lapang tumbuh ilalang lebat yang cukup cantik untuk sesi foto. Setelah tiba di beberapa warung sederhana tempat kita memarkir kendaraan, kita dipungut biaya masuk dua ribu Rupiah per orang sebelum menuruni tangga dan melihat air terjun yang sering dijuluki Niagara mini Bekasi ini.

Kita juga bisa naik kendaraan umum loh untuk menuju Curug Parigi. Dari perempatan Rawa Panjang kita bisa naik angkot K11 jurusan Bantar Gebang dan turun di Pasar Bantar Gebang. Dari sana lanjutkan dengan menaiki angkot berwarna biru arah Cileungsi dan turun di Pangkalan 4, jangan lupa patokan stop di Pabrik Mitra Baja. Langsung menyeberangi jalan dan ambil belokan di kanan jalan. Lebih baik ambil waktu pagi atau sore hari jika ingin memilih berjalan dari titik ini.

Ketika akan pulang, saya dan Enno juga melihat beberapa pengunjung yang datang dengan ojek online. Jadi buat yang ingin lebih praktis menuju Curug Parigi, ojek online bisa jadi alternatif yang pas.

Here comes the view

Menuruni tangga yang lumayan curam sambil ditemani hijaunya pohon kersen, bambu dan ilalang serta sejuknya angin yang berhembus mengobati teriknya Bekasi siang itu. Oh iya, undakan tangganya masih alami sekali. Jadi kita harus ekstra hati-hati menuruninya. Di beberapa titik saya memainkan semak putri malu yang mengingatkan saya pada masa kecil.

Bayar dua ribu sini

Curug Parigi terasa sangat panas saat itu. Walaupun angin berhembus, panasnya Bekasi tak mampu tertutupi. Kami beruntung bau sampah Bantar Gebang tidak terendus saat itu. Yup, lokasi Curug Parigi memang dekat dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir Bantar Gebang yang terkenal itu.

Curug Parigi di siang hari

Curug Parigi memang terlihat seperti Niagara mini. Tinggi air terjun itu dua meter dengan bentuk memanjang sekitar dua puluh meter. Airnya meluncur lumayan deras dengan beberapa bongkah batu besar yang sering dijadikan titik untuk berswafoto. Lumayan untuk sekedar bermain air dan menghilangkan hawa panas Bekasi.

Hijaunya Curug Parigi

Kami beruntung kondisi saat itu tidak terlalu ramai. Ada beberapa anak kecil yang sepertinya warga sekitar asyik berenang dan main air.  Kami tidak melihat ada sarana toilet di sekitar jadi kami memtuskan untuk bermain air sambil berfoto saja. Kami juga tidak membawa pakaian ganti,sih.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

The Story behind Curug Parigi

Setelah puas main air dan menikmati kehijauan di pinggiran sungai, kami pun naik ke atas. Tak langsung pulang, kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu warung di atas. Sambil menikmati es teh manis dan beberapa potong bakwan dan tahu goreng, kamipun berbincang-bicang dengan Ibu si empunya warung.

Si Ibu ternyata masih warga sekitar , demikian juga anak-anak kecil yang kami temui sedang berenang di bawah. Dari Si Ibu kami tahu kalau ternyata ada sisi mistis dari Curug Parigi yang katanya suka meminta korban. Ada kata hiiiiy penuh ngeri yang terlontar saat mendengar cerita tersebut. Tetapi, kalau dipikir-pikir arus deras dan banyaknya batu-batu besar di Curug Parigi bisa jadi salah satu penyebab celaka kalau pengunjung tidak berhati-hati. Saya pun beberapa kali sempat terpeleset saat meloncat dari satu batu ke batu lainnya.

Curug Parigi ternyata adalah sisa proses penggalian batu Dinas Bina Marga yang dulunya dijadikan bahan baku pembuatan jalan raya Narogong. Karena ada bagian  bukit yang sangat cadas, areal itu ditinggalkan dan  penduduk sekitar  mulai menambang pasir setelahnya. Sisa-sisa penggalian dan penambangan itulah yang membentuk kontur batuan cadas dan Curug Parigi saat ini. Penduduk sekitar pun masih sering memancing ikan sapu-sapu yang banyak hidup di sekitar aliran sungai.

How to get the best view?

I am not a photographer, but I do love a great view. Saat melihat postingan para pejalan di Instagram, saya selalu melihat komen-komen yang biasanya lebih jujur daripada foto itu sendiri. Sempat beberapa kali tertipu angle para fotografer handal itu membuat saya lebih jeli sebelum memutuskan seberapa jauh saya boleh berharap akan keindahan suatu tempat. Dan tak dapat dipungkiri, saya menemukan beberapa komentar negatif tentang Curug Parigi.

indahnya curug parigi

Kotornya lingkungan sekitar memang tak dapat dipungkiri. Saya menemukan beberapa onggok sampah plastik kering yang sepertinya hanyut terbawa arus sungai. Jadi pastikan kita tidak menambah kotoran plastik yang ada dengan sampah kita yah.

eksotisme Curug Parigi

Beberapa komentar mengeluhkan air sungai yang keruh bahkan cenderung hitam. Saya dan Enno beruntung karena kami masih bisa main air saat itu. Kebetulan dua hari sebelum kami pergi ke Curug Parigi, Bekasi memang diguyur hujan yang tak terlalu deras. It’s a bit tricky to decide when is the best time to visit the place. Pastikan juga kondisi cuaca Bekasi tidak terlalu deras curah hujannya, selain kondisi tanah yang pastinya akan sangat becek, saya juga khawatir debit air sungai di Curug Parigi tidak memungkinkan untuk dapat dinikmati. Enggak mau lihat air sungai yang keruh, kan?

Plastic waste at Curug Parigi

Mengingat panasnya Bekasi, it can reach 360 C nowadays,  sebaiknya kita mengunjunginya diwaktu pagi atau sore hari. Coba cek foto-foto sunrise Curug Parigi yang bertebaran di sosial  media. Mengagumkan, bukan? I shoud try to capture mine one day.

 

 

Well, itulah pesona lokal Bekasi yang akhirnya sempat saya kunjungi. Sebuah oase kecil yang sedikit bisa membuat kita melupakan panas dan hiruk pikuknya Bekasi. Enggak perlu budget sebesar budget ke mall, kok. Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu melihat pesona lokal yang tersembunyi di kotamu?

 

 

Iklan

53 tanggapan untuk “Curug Parigi, Oase Cantik di Tengah Panasnya Bekasi”

  1. Kak Muti, seriously ini di Bekasi? Sudah lama dengar sih dari zaman aku masih kerja di Kemang Pratama cuma ga percaya kalau sebersih ini. Kak, ajak aku ke sana

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s